Hutan Jati Gunung Sangkur Banjar Kebakaran, Pertanda Turun Hujan?

Hutan Jati Gunung Sangkur Banjar Kebakaran Pertanda Turun Hujan
Hutan Jati Gunung Sangkur Banjar Kebakaran Pertanda Turun Hujan

BERITA BANJAR, RANCAH POST – Musim kemarau yang berkepanjangan perlu diwaspadai dikarenakan berpotensi menyebabkan terjadinya kebakaran.

Itulah yang terjadi di Kota Banjar Jawa Barat pada Rabu (1/8/2018) sore sekitar pukul 17.00 WIB, hutan jati Gunung Sangkur yang berada di Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar kebakaran.

Kebakaran hutan jati Gunung Sangkur Banjar pun semakin meluas lantaran petugas pemadam kebakaran tak bisa berbuat banyak lantaran sulitnya akses menuju lokasi kebakaran.

Warga bernama Hardiman mengatakan, api dalam inisiden hutan jati Gunung Sangkur terbakar belum bisa dipadamkan hingga hari berangsur malam.

Penyebabnya, selain sumber air yang mengalami kekerinagan akibat kemarau, medan yang sulit juga menghambat petugas pemadam kebakaran.

“Kebakaran ini terjadi hampir setiap tahun. Kalau sudah malam warga tak berani ke hutan karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, baik disangka pencuri kayu atau disangka sebagai pelaku pembakaran,” ucap Hardiman.

Karena kebakaran hutan jati Gunung Sangkur sukar dipadamkan, kobaran api pun semakin meluas. “Kita jadi penonton saja, mau memadamkan api juga bingung, sumber air jauh,” kata Hardiman.

Sementara itu, sebagian warga percaya bahwa kejadian hutan jati Gunung Sangkur terbakar merupakan pertanda akan segera turun hujan ketika musim kemarau.

“Ada warga yang percaya kalau sudah terjadi kebakaran, berarti sebentar lagi akan turun hujan,” terang Yayan, Ketua RW 8 Dusun Margaluyu, dilansir Harapan Rakyat.

Berkenaan dengan mitos turun hujan setelah terjadi kebakaran, Yayan mendengarnya dari cerita orangtua yang ada di lingkungannya.

BACA JUGA: Kebakaran Hebat Hanguskan PT Alba Banjar

Meski demikian, dari pengamatan Yayan, hujan memang turun tak lama setelah terjadi kebarakan hutan. “Intinya orang jaman dulu itu percaya dengan hal itu,” tukas Yayan.

Tinggalkan komentar

Masukkan komentar Anda
Masukkan nama