Close Menu
Rancah Post
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Rancah Post
    • HOME
    • BERITA
      • Berita Banjar
      • Berita Ciamis
      • Berita Internasional
      • Berita Nasional
      • Berita Pangandaran
      • Berita Rancah
      • Berita Tasikmalaya
    • TEKNOLOGI
      • Aplikasi
      • Info Gadget Terbaru
      • Games
      • Internet
      • Software
      • Hardware
      • Review
      • Tips & Trik
    • LIFESTYLE
      • Fashion
      • Kecantikan
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Travel
      • Relationship
    • VIRAL
      • Sosial Media
      • Viral Video
      • Tentainment
    • SMARTPHONE
    Rancah Post
    Home»Lifestyle»Ramadhan»Ingat, “Ngabuburit” Bukanlah Ajaran Islam!
    Ramadhan

    Ingat, “Ngabuburit” Bukanlah Ajaran Islam!

    Toni FaturokhmanToni Faturokhman23 Juni 20150
    Share Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Follow Us
    Google News
    Ngabuburit di Rancah
    Ngabuburit di Rancah

    RANCAH POST – “Ngabuburit” adalah istilah yang dipakai oleh orang Sunda ketika menunggu datangnya waktu berbuka puasa atau menunggu tenggelamnya matahari pada sore hari. Kebiasaan atau tradisi “ngabuburit” ini sudah dijalankan atau dilakukan oleh masyarakat Sunda, khususnya generasi muda. Dalam “ngabuburit” ini biasanya para generasi muda ke luar rumah sejak waktu Ashar, lalu mereka pergi secara bersama-sama dengan temannya atau pergi sendirian ke tempat dimana biasa mereka nongkrong, atau jika dekat dengan alun-alun mereka akan pergi ke alun-alun tersebut. Begitu pula dengan ibu-ibu, mereka juga akan keluar sekedar berkerumun dengan ibu-ibu yang lain guna menunggu waktu berbuka tiba. Kebiasaan inilah yang akhirnya dikenal dengan istilah “ngabuburit”.

    “Ngabuburit” sendiri dilakukan oleh masyarakat Sunda sebelum zaman modern seperti sekarang ini dihabiskan dengan menganyam tikar di depan rumah mereka masing-masing atau di halaman rumah mereka masing-masing sambil bergurau atau sekadar mengobrol dengan yang lainnya. Anak-anak sendiri biasanya main bersama dengan teman-temannya dan kemudian segera bergegas merapihkan alat-alat untuk mengaji lantas pergi ke Masjid atau “tajug” orang Sunda menyebutnya.

    Lalu kenapa tiba-tiba istilah “ngabuburit” ini akhirnya berubah makna dari melakukan hal-hal yang positif seperti yang telah disebutkan di atas ke istilah “ngabuburit” yang terkesan penuh dengan perbuatan sia-sia belaka, bahkan berujung kepada maksiat hingga akhirnya pahala dari puasa itu sendiri gugur?

    Awal mula dari istilah “ngabuburit” yang cenderung sia-sia ini bermula dari suatu acara infotainment yang ada di salah satu TV swasta. Beberapa artis, khususnya artis yang berasal dari Jawa Barat diwawancarai mengenai kegiatannya pada bulan Ramadhan. Artis tersebut pun mengucapkan istilah “ngabuburit” ini, namun artis tersebut menghabiskan waktu “ngabuburitnya” hanya dengan nongkrong, wara-wiri sana sini, dan juga senang-senang semata.

    Entah bermula dari pernyataan artis tersebut atau dari mana, akhirnya generasi muda pun mengikuti apa yang dilakukan oleh idolanya tersebut. Apalagi jika “ngabuburit” artis tersebut disiarkan lewat media seperti televisi yang memperlihatkan kalau “ngabuburit” itu dengan cara pergi nongkrong atau wara-wiri naik kendaraan. Sudah pasti hal ini akan diserap dan diikuti dengan cepat sebagaimana generasi muda tersebut melihat artis idola mereka melakukan “ngabuburit”.

    ISLAM tidak pernah mengajarkan kepada umatnya bahwa cara menunggu berbuka puasa itu dengan cara “ngabuburit” yang terkesan dihabiskan dengan perbuatan sia-sia belaka seperti pergi berduaan buka dengan muhrimnya, hura-hura, atau mengganggu orang lain dengan menyalakan petasan, atau pun dengan perbuatan lainnya yang berujung pada maksiat yang tidak terasa.

    Jika hal ini tidak diluruskan, maka mungkin saja generasi selanjutnya memaknai bahwa “ngabuburit” yang seperti itu lumrah-lumrah saja atau tidak dilarang dalam Islam. Rasulullah SAW sendiri bersabda dalam haditsnya:

    Hadits Ngabuburit

    “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta (tidak meningalkan) perbuatan bodoh maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum”. (HR. Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya).

    Hadits Ngabuburit 2
    “Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga”. (HR. Ahmad, hadist hasan shahih).

    Mudah-mudahan dari penjelasan tersebut, Kita bisa mengisi bulan Ramadhan tahun ini dengan hal-hal yang bermanfaat. Sehingga pahala berpuasa Kita tetap terjaga dan Kita senantiasa terhindar dari hal-hal sia-sia.

    Bulan Ramadhan Kajian Islami Ngabuburit
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram LinkedIn Copy Link
    Toni Faturokhman
    • Website
    • Facebook
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Seru Banget, Warga Kompak Gelar Sahur Bersama di Jalan Komplek Perumahan

    20 April 2022

    Pakai Toa Masjid, Bapak ini Bangunkan Sahur Warga Jam 12 Malam, Ngelindur?

    18 April 2022

    Sekedar Mengingatkan, Ini Tata Cara Sholat Idul Fitri

    4 Juni 2019
    Add A Comment

    Comments are closed.

    Cara Menggunakan Flashdisk di HP iPhone, Bebas Ribet & Pasti Berhasil!

    2 Maret 2026

    Nubia Neo 5 GT Siap Debut di MWC 2026, Bawa Kipas Pendingin Aktif

    28 Februari 2026

    Realme Narzo Power 5G Meluncur 5 Maret, Spesifikasinya Identik dengan P4 Power?

    28 Februari 2026

    Infinix Smart 20 Resmi Diumumkan, Pakai Helio G81 Ultimate dan Layar 120 Hz

    28 Februari 2026
    Daftar HP Terbaru 2026
    • Samsung Galaxy S26 Ultra Samsung Galaxy S26 Ultra Rp24.499.000
    • Samsung Galaxy S26 Plus Samsung Galaxy S26 Plus Rp19.499.000
    • Samsung Galaxy S26 Samsung Galaxy S26 Rp16.499.000
    • Vivo iQOO 15R Vivo iQOO 15R Rp5.899.000
    • Honor X6d 5G Honor X6d 5G Rp2.499.000
    • Honor Play 60A Honor Play 60A Rp3.799.000
    Rancah Post
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn
    • Kontak
    • Privacy
    • Terms
    • Disclaimer
    © 2026 Rancah Post.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.