RANCAH POST – Sepp Blatter Mundur sebagai Presiden FIFA, hal tersebut mengejutkan karena Blatter baru saja terpilih kembali pada Kongres FIFA tahun 2015, menjadikan pemerintah Indonesia lewat Kemenpora mempersoalkan keseriusan federasi sepakbola dunia ini memberikan sanksi bagi Indonesia.

Kepala Komunikasi Publik Kemenpora Indonesia, Gatot S. Dewa Broto, menganggap pihaknya telah merasakan makin ruwetnya tata kelola manajemen FIFA kala organisasi tersebut memberikan sanksi lewat surat resminya untuk PSSI pertanggal 30 Mei 2015.

“Isi surat tersebut, terdapat sejumlah kejanggalan atas sanksi yang dijatuhkan pada anggota federasinya, sebab faktanya tak berdasarkan data dan fakta yang sesungguhnya. Seolah-olah FIFA hanya bermain-main dalam memberikan sanksi yang bakal dijatuhkannya,” ungkapnya melalui siaran tertulisnya, Rabu (3/6/2015).

Akan tetapi, apapun alasan dan motivasi Sepp Blatter guna mengundurkan diri sebagai Presiden FIFA yang baru saja terpilih kembali, Kemenpora tetap memberi rasa hormat dan apresiasi baginya, sebab keputusan itu dibuatnya tanpa harus menunda-nunda waktunya pada saat FIFA kian menjadi perhatian internasional atas sejumlah indikasi dugaan kasus korupsi yang melibatkan beberapa petinggi FIFA.

Pengunduran dirinya ini bakal memberi peluang bagi sejumlah pihak yang mau membuat reformasi total atas manajemen FIFA. Berdasarkan dengan janjinya, Sepp Blatter mengungkapkan, bahwa FIFA bakal secepatnya menyelengarakan KLB FIFA guna memilih pengurus yang baru pada bulan Desember 2015 nanti.

“Sambil menunggu bakal diadakannya kongres yang dimaksud di Mexico, Sepp Blatter mesti mampu membuktikan komitmennya guna mereformasi FIFA secara keseluruhan,” ungkap jubir Kemenpora itu.

Jikalau memang ada niat ke arah itu, bukan tak mungkin Sepp Blatter bakal didukung oleh beberapa pihak guna meletakkan dasar-dasar reformasinya sambil nanti bakal diteruskan oleh siapapun yang terpilih menggantikannya dengan sejumlah revisi berdasarkan kebutuhannya secara transparan, objektif, dan profesional.

Menurutnya, mundurnya Sepp Blatter itu mestinya menjadi pelajaran untuk semua petinggi FIFA dan seluruh anggota federasinya untuk responsif secara bijak andai menghadapi sorotan untuk sejumlah kasus yang ada tanpa mesti menunda-nunda waktu pengunduran diri.

“Idealnya Sepp Blatter dulunya tak usah mencalonkan diri sebelum Kongres FIFA bulan Mei 2015 lalu, tetapi itu tak mungkin sebab merupakan haknya. Namun pengunduran dirinya saat ini paling tidak hanya memberi beban tambahan pada FIFA guna menyelenggarakan kongres lagi secepatnya daripada menangani sejumlah masalah lain yang lebih mendesak,” papar Gatot.

Blatter yang telah lima kali menduduki sebagai presiden FIFA itu selama kurun waktu 17 tahun terakhir itu mengumumkan pengunduran dirinya di kantor FIFA di Zurich, Swiss, Selasa (2/6/2015).

Share.

Leave A Reply