RANCAH POST – Kanker pankreas atau adenokarsinoma pankreas duktal merupakan salah satu bentuk kanker paling mematikan pada manusia. Ini adalah penyakit yang sangat agresif dan dibutuhkan perawatan khusus ketika gejala muncul.

Berdasar dari sebuah penelitan yang dipimpin Dr. Guido Eibl di David Geffen School of Medicine, pada kanker pankreas, tingkat kelangsungan hidup selama lima tahun secara keseluruhan adalah sekira tiga hingga lima persen. Sementara masa hidup seseorang rata-rata setelah didiagnosis kanker pankreas hanya sekira empat sampai enam bulan.

Berhubung perawatan saat ini terbatas dalam kuantitas dan efektivitas, peneliti beralih ke strategi pencegahan. Hal ini bertujuan untuk membuat kemajuan terhadap penyakit sebelum mencapai tahap lanjutan.

Penelitian sebelumnya sangat mendukung hubungan antara obesitas dan peningkatan risiko kanker pankreas. Eibl dan rekan-rekannya menganalisis diet yang menyebabkan obesitas dan perkembangan kanker pankreas dalam suatu percobaan pada tikus.

Obesitas pada tikus dibuat menyerupai manusia dalam sejumlah fitur klinis yang penting, termasuk berat badan dan gangguan metabolisme. Menurut peneliti, model pada tikus adalah ideal untuk mengungkap setiap mekanisme biologis yang mendasari kanker pankreas yang disebabkan obesitas.

Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus yang diberi diet lemak dan kalori tinggi naik secara signifikan. Selain itu, tikus yang diberi diet lemak dan kalori tinggi memiliki kelainan dalam metabolisme, meningkatkan kadar insulin, dan menunjukkan peradangan pankreas, serta pengembangan pankreas neoplasias intraepithelial.

Pengamatan dalam penelitian ini  mengatakan bahwa diet seperti itu mengarah ke penambahan berat badan dam gangguan metabolisme, serta menyebabkan peradangan pankreas, dan memicu lesi pankreas yang mengarah kepada kanker.

“Perkembangan lesi pada tikus sangat mirip dengan apa yang terjadi pada manusia. Lesi ini membutuhkan waktu yang lama untuk berkembang menjadi kanker, sehingga ada cukup waktu untuk membuat strategi pencegahan kanker, seperti mengubah ke diet rendah lemak dan rendah kalori,” imbuh Eibl, sebagaimana dikutip Medicalxpress.

Share.

Leave A Reply