Rabu, Desember 2, 2020
Beranda Artikel & Opini Tradisi Ruwahan, Tradisi Mendoakan Leluhur pada Bulan Syaban

Tradisi Ruwahan, Tradisi Mendoakan Leluhur pada Bulan Syaban

RANCAH POSTBulan Sya’ban atau orang bulan Ruwah, orang Jawa menyebutnya. Pada bulan Ruwah ini terdapat sebuah tradisi turun-temurun yang sampai sat ini masih dijalankan terutama bagi masyarakat yang ada di pedesaan. Masyarakat mengenalnya degan “Ruwahan atau Arwahan”, yaitu tradisi mendoakan arwah orang-orang yang telah meninggal yang dilakukan bersama-sama dengan tetangga. Entah kapan dimulainya tradisi ini, beberapa masyarakat pun tidak dapat menjelaskan tradisi ruwahan atau arwahan karena tradisi ini sudah ada sebelum mereka lahir dan akan terus menerus berlanjut sampai mereka punya anak dan cucu.

Ada beberapa hal yang perlu Kita pahami dari tradisi ruwahan atau arwahan ini, diantaranya:

Pertama, mendo’akan orang yang telah meninggal itu bermanfaat.

Adapun dalil yang mendukungnya adalah firman Allah dalam surat al-Hasyr ayat 10, yang artinya: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Tuhan, berikanlah ampunan kepada Kami dan saudara Kami yang telah beriman lebih dulu daripada Kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang yang beriman; Ya Tuhan, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.“

Ayat tersebut memberitahukan bahwa di antara faedah yang dapat diberikan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal adalah do’a. Cakupan ayat ini umum, yaitu terdapat do’a yang ditujukan pada orang yang masih hidup dan kepada orang yang telah meninggal dunia.

Kedua, tidak ada tuntunan mengkhususkan mengirimkan do’a pada bulan Syaban.

Berdo’a yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yaitu berdo’a sepanjang waktu, kapan saja dan dimana saja. Tentunya harus ada dalil yang mendasari kenapa ada kekhususan melaksanakan do’a pada bulan ini. Jika tidak ada dalil yang mendasarinya, amalan tersebut akan tertolak dengan sendirinya. Kita tidak boleh melakukan suatu ibadah apalagi mengkhususkannya kecuali dengan dalil yang benar-benar kuat.

Ketiga, tradisi ruwahan atau arwahan sudah menjadi tradisi.

Tradisi ruwahan atau arwahan ini sebenarnya tidak memiliki kejelasan siapa yang pertama kali melaksanakannya, amalan ini pun tidak jelas asalnya dari mana. Seandainya ini adalah tuntunan dari Rasulullah, tentunya di negara dimana Rasululullah diturunkan (saudi Arabia), amalan ini pasti akan dilaksanakan. Tapi kenyataannya tidak sama sekali diamalkan disana maupun di negara lainnya yang memiliki penduduk Muslim.

Keempat, do’a dari seorang anak adalah do’a utama dan paling utama.

Do’a dari orang lain memang bermanfaat, tapi alangkah lebih bermanfaat lagi jika yang mendo’akan orang yang telah meninggal adalah anak kandungnya sendiri. Kita boleh saja mengirimkan do’a kepada orang yang telah meninggal, tapi yang harus Kita ketahui dan fahami adalah mendo’akan orang yang telah meninggal dunia itu tidak harus dikhususkan pada bulan Syaban yang di dalamnya terdapat tradisi ruwahan atau arwahan.

“Jika anak adam telah meninggal, terputuslah semua amal darinya. Kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim).

Sebagai Muslim yang baik, sepatutnya kita selalu mengetahui dasar dari sebuah ibadah yang akan kita lakukan. Jangan serta merta karena ibadah tersebut sudah dilakukan oleh leluhur kita, lantas kita menerimanya begitu saja. Tidak hanya tertolak, justru mungkin saja amalan tersebut adalah amalan bid’ah yang seharusnya kita hindari. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here