RANCAH POST – Pihak pemerintah Amerika Serikan meyakini, kaum pemberontak yang pro-Rusia sangat berkemungkinan menembak jatuh pesawat Malaysia Airlines MH17 penumpang Malaysia Airlines karena sebuah kesalahan.

Mereka tidak menyadari bahwa pesawat itu merupakan pesawat penumpang sipil, kata sejumlah pejabat intelijen AS, Selasa (22/7/2014) waktu setempat.

Para pejabat itu, yang tidak bersedia disebutkan identitasnya, mengatakan “sebagian besar penjelasan yang masuk akal” tentang kaum separatis meluncurkan apa yang AS percaya sebagai rudal darat-ke-udara SA-11 buatan Rusia ke pesawat Malaysia Airlines MH17 itu karena mengira pesawat tersebut bukan pesawat penumpang sipil.

“Lima hari kemudian (setelah kecelakaan) tampak bahwa itu merupakan sebuah kesalahan,” kata salah orang pejabat itu dalam sebuah acara pemberian keterangan kepada wartawan.

Rudal tersebut mungkin ditembakkan “awak yang tidak terlatih” dengan menggunakan sistem yang memerlukan sejumlah keterampilan dan pelatihan, kata seorang pejabat itu.

Para pejabat itu mengatakan, kesimpulan mereka didukung percakapan yang berhasil disadap dari kaum separatis yang dikenal pro-Rusia. Suara percakapan itu telah diverifikasi oleh badan-badan AS.

Para pembicara dalam percakapan itu awalnya membual bahwa mereka telah menembak jatuh sebuah pesawat angkut militer, tetapi kemudian mengakui bahwa mereka mungkin telah membuat kesalahan, kata para pejabat itu.

Menurut para pejabat tersebut, serangkaian operasi Rusia telah terlihat di wilayah Ukraina timur. Namun, komunitas intelijen AS tidak punya bukti eksplisit bahwa Rusia telah membawa SA-11 yang kemudian diyakini telah digunakan untuk menembaki pesawat MH17 tersebut.

Walau AS telah mengamati aliran senjata-senjata berat, termasuk sistem pertahanan udara, ke Ukraina dari Rusia, badan-badan intelijen tidak melihat rudal-rudal sebesar SA-11 telah dipindahkan ke negara itu sebelum pesawat itu jatuh.

Militer Rusia telah melatih para pemberontak di sebuah pangkalan besar di Rostov untuk menggunakan berbagai senjata, termasuk sistem pertahanan udara.

Namun, para pejabat AS mengatakan, tidak ada bukti eksplisit bahwa Rusia telah melatih kaum separatis untuk menggunakan baterai rudal SA-11.

Jatuhnya pesawat MH17, yang telah menyebabkan semua 298 orang di dalamnya tewas, telah memperdalam krisis Ukraina.

Kaum separatis bersenjata di timur negara itu yang berbahasa Rusia telah memerangi pasukan pemerintah sejak para demonstran pro-Barat di Kiev menggulingkan preside pro-Moskwa dan Rusia mencaplok Krimea pada awal tahun ini.

Pemerintah Presiden AS Barack Obama mengatakan, mereka yakin bahwa pesawat MH17 dijatuhkan pada Kamis lalu oleh sebuah rudal SA-11 yang ditembakkan dari wilayah di Ukraina timur yang dikuasai separatis pro-Rusia.

Pihak AS mengatakan, kesimpulan tersebut didukung baik oleh informasi intelijen yang tidak disebutkan secara jelas dan berdasarkan posting-an luas di media sosial baik oleh kaum separatis maupun Pemerintah Ukraina.

Para pejabat intelijen itu mengatakan pada Selasa bahwa mereka punya sejumlah laporan tentang selusin pesawat yang ditembak dari daerah yang kuasai kaum separatis selama dua bulan pertempuran antara pasukan Pemerintah Ukraina dan pemberontak.

Dua di antara pesawat itu adalah pesawat angkut besar. Salah seorang pejabat itu mengatakan, hingga pesawat Malaysia Airlines itu ditembak, kebanyakan pesawat yang menjadi sasaran terbang di ketinggian rendah.

Para pejabat itu mengatakan, AS tidak tahu bahwa kaum separatis memiliki sistem rudal SA-11. Mereka baru tahu tentang itu setelah pesawat Malaysia Airlines itu ditembak.

Para pemimpin separatis membantah mereka telah menembak jatuh pesawat itu, dan Rusia membantah terlibat dalam insiden tersebut. Rusia justru menyatakan bahwa Pemerintah Ukraina yang harus disalahkan atas tragedi itu.

Para pejabat intelijen senior itu mengatakan, mereka memutuskan untuk memberi keterangan kepada wartawan tentang hal itu, sebagian untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai propaganda menyesatkan dari Rusia dan media yang dikontrol pemerintah atas insiden tersebut.

Mereka mengatakan, tuduhan bahwa pesawat Boeing 777 itu melakukan tindakan mengelak di udara, mirip dengan bagaimana sebuah pesawat militer bermanuver, tidak berdasar dan merupakan tuduhan klasik yang menyalahkan korban.

Klaim bahwa Pemerintah Ukraina menembak jatuh pesawat itu juga dinilai tidak realistis karena Kiev tidak memiliki sistem rudal itu di daerah tersebut, yang jelas-jelas berada di bawah kendali pemberontak.

Skenario itu berarti pasukan Pemerintah Ukraina harus bertarung untuk mencapai daerah tersebut, lalu menembak pesawat penumpang, dan berperang lagi untuk keluar dari sana, kata pejabat itu. “Hal itu jelas bukan skenario yang masuk akal buat saya,” kata pejabat tersebut.

Share.

Leave A Reply