RANCAH POST – Alejandro Sabella yang merupakan pelatih Argentina harus bisa mengoptimalkan stamina anak asuhnya jelang laga final Piala Dunia 2014 melawan Jerman pada Minggu (13/7). Dikarenakan Tim Tango sudah menggunakan tenaga ekstra kala mengalahkan Belanda 4-2 lewat adu penalti, kemarin.

Sementara, Jerman sehari sebelumnya lebih dulu dapat tiket ke Maracana setelah membantai Brasil 7-1. Itu artinya, pemain-pemain Jerman punya waktu istirahat satu hari lebih lama untuk final.

“Jerman selalu jadi lawan yang sulit untuk dikalahkan, dan akan lebih sulit lagi karena mereka punya waktu satu hari lebih banyak untuk istirahat, bahkan tidak mengeluarkan banyak tenaga di babak kedua saat mengalahkan Brasil,” kata Sabella merujuk pada keunggulan 5-0 Jerman di babak pertama.

“Kami harus menggunakan setiap tenaga yang kami punya di pertandingan final. Jadi itu akan menjadi keuntungan buat mereka. Di 1998 mengalahkan Inggris melalui ekstra time (di 16 besar) dan kalah saat menghadapi Belanda karena panasnya Marseille pada laga selanjutnya, itu membahayakan kami. Kami harus memulihkan kondisi dan bekerja demi memastikan kami siap,” ujarnya di Guardian.

Sementara itu, penyerang Tango, Sergio Aguero mengatakan timnya tidak perlu mengubah cara bermain saat menghadapi Jerman di partai final. Striker Manchester City itu yakin Argentina hanya perlu meneruskan cara bermain seperti yang sudah diterapkan sejak awal Piala Dunia 2014.

“Jerman selalu menjadi lawan sulit di Piala Dunia, namun kami akan meneruskan permainan kami. Argentina adalah Argentina. Jerman juga menghormati kami,” ujar pemain kembali bermain usai baru pulih dari cedera tersebut.

Dalam dua laga terakhir melawan Jerman, tim Tango selalu kalah. Di Piala Dunia 2006 mereka tunduk melalui adu penalti di delapan besar dengan skor 2-4, setelah berimbang 1-1 hingga perpanjangan waktu. Sementara empat tahun lalu di Afrika, Lionel Messi cs menyerah 0-4 juga di perempatfinal.

Namun, jika dilihat dari statistik saat di final, Argentina lebih berpeluang. Jerman menjadi tim paling sering menembus partai puncak dengan catatan delapan kali. Brasil menyusul sebanyak tujuh kali, kemudian Italia dan Argentina yang sama-sama empat kali.

Pada tujuh final terakhir mereka, Jerman tiga kali menjadi juara, yaitu pada 1954, 1974, dan 1990. Sedangkan Argentina dua kali menjadi juara, yaitu pada 1978 dan 1986.

Mengacu pada catatan itu, maka Argentina memiliki peluang yang lebih besar daripada Jerman untuk menjadi juara di Brasil. Persentase kesuksesan Argentina pada empat final sebelumnya mencapai 50 persen, sedangkan Jerman 43,47 persen.

Argentina juga didukung fakta kuat. Sepanjang sejarah, belum pernah ada tim Eropa yang mampu menjuarai Piala Dunia yang digelar di benua Amerika.

Dari tujuh Piala Dunia di Amerika sebelumnya (1930, 1950, 1962, 1970, 1978, 1986, dan 1994), tim-tim yang keluar sebagai juara selalu tim dari benua Amerika. Brasil tiga kali, disusul Uruguay dan Argentina yang sama-sama dua kali.

Share.

Leave A Reply