Bernasib Sama dengan Bosnya, Wanita Korban Mutilasi di Malaysia Ternyata Warga Pangandaran

Bernasib Sama dengan Bosnya Wanita Korban Mutilasi di Malaysia Ternyata Warga Pangandaran
Bernasib Sama dengan Bosnya Wanita Korban Mutilasi di Malaysia Ternyata Warga Pangandaran

BERITA PANGANDARAN, RANCAH POST – Dengan seorang pria asal Bandung yang diketahui sebagai bos tekstil, seorang wanita juga turut menjadi korban mutilasi di Malaysia.

Wanita itu diketahui bernama Ai Munawaroh, janda cantik beranak satu berusia 30 tahun asal Dusun Cirapuan RT 42 RW10 Desa Sindangjaya, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran.

Kepergian Ai ke Malaysia yakni bersama bosnya, Nuryanto, pada Januari silam yakni untuk keperluan bisnis.

Sempat kehilangan kontak dengan keluarga, Ai dan Nuryanto akhirnya ditemukan sudah tak bernyawa dengan kondisi tubuh terpotong-potong di Sungai Buloh Selangor.

Kepolisian Malaysia sempat kesulitan mengungkap identitas korban. Namun setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, kedua korban diketahui sebagai warga negara Indonesia.

Sementara itu sebagaimana dilansir Harapan Rakyat, jenazah warga Pangandaran korban mutilasi di Malaysia itu akhirnya tiba di kampung halaman pada Rabu (13/3/2019) malam dan disambut isak tangis keluarga.

Menurut keterangan pihak keluarga, Ai yang bekerja sebagai karyawati di perusahaan konveksi di Baleendah itu pergi ke Malaysia dengan bosnya untuk menagih hutang ke rekan bisnis bosnya.

Rohili, ayah Ai menuturkan, anaknya sempat pamitan kepada dirinya akan pergi ke Malaysia mendampingi bosnya. Setibanya di Malaysia, Ai kembali mengabari dirinya.

“Tanggal 21 Januari anak saya mengabari bahwa dirinya sudah sampai di Malaysia, sempat bilang juga akan pulang tanggal 23 Januari,” ungkap Rohili.

Tanggal 22 Januari Rohili mencoba menghubungi anaknya, namun tak ada jawaban.

“Saya sempat heran juga kenapa telepon dari saya tak diangkat, waktu itu saya berpikir mungkin anak saya sedang sibuk,” kata Rohili.

Rohili kembali menghubungi anaknya karena sebelumnya menyebutkan akan pulang ke tanah air tanggal 23 Januari. Meski bisa dihubungi, tak ada jawaban dari sang anak.

“Saya tidak was-was saat itu karena setiap dihubungi nomornya selalu aktif, saya menduga kalau ia masih sibuk,” ujar Rohili.

Namun satu pekan kemudian Rohili menerima kabar mengejutkan, petugas KBRI yang menghubungi menyebutkan bahwa anaknya ditemukan sudah meninggal dunia.

BACA JUGA: Pengusaha Tekstil Asal Bandung Jadi Korban Mutilasi di Malaysia, Potongan Tubuh Membusuk di TKP

“Saya sempat tak percaya dan berpikir itu penipuan, tapi dua hari kemudian pihak KBRI datang dan meminta saya berangkat ke Malaysia untuk tes DNA,” tandas Rohili.

Tinggalkan komentar

Masukkan komentar Anda
Masukkan nama