RANCAH POST – Ulah pemerintah Tiongkok yang mengklaim bahwa perairan Natuna masuk dalam wilayahnya membuat hubungan antara Indonesia dan Tiongkok memanas.
Memanasnya hubungan Indonesia dan Tiongkok ini bermula saat KRI Imam Bonjol yang berpatroli pada Jum’at (17/6/2016) mendapatkan laporan bahwa terdapat 12 kapal asing yang tengah mencuri ikan di Natuna.
Di bawah komando Koarmabar (Komando Armada RI Kawasan Barat), KRI Imam Bonjol kemudian bergerak mendekati 12 kapal ikan tersebut. Namun saat didekati, kapal-kapal yang mencuri ikan di Natuna tersebut melarikan diri.
Tak tinggal diam, KRI Imam Bonjol pun mengejarnya dan mengeluarkan tembakan peringatan. Tembakan peringatan itu disebutkan mengenai kapal berbendera Tiongkok dan melukai seorang nelayan. Buntut insiden ini, Tiongkok melayangkan nota protesnya terhadap Indonesia.
Menanggapi hal ini, Retno Marsudi menilai nota protes yang dilayangkan Tiongkok terhadap Indonesia merupakan hal yang lumrah. “Bila ada sebuah peristiwa, sudah lumrah bila dalam diplomasi melayangkan nota protes. Indonesia pun akan melayangkan nota protes jika terjadi hal yang serupa,” kata Retno.
Sementara itu, insiden antara KRI Imam Bonjol dengan kapal Tiongkok yang mencuri ikan di perairan milik Indonesia tersebut tidak dianggap remeh oleh Presiden RI, Joko Widodo. Jokowi pun kemudian mengagendakan kunjungan ke Natuna sebagai bentuk penegasan bahwa jangan main-main dengan kedaulatan Indonesia.
Tak hanya itu, kedatangan Presiden Joko Widodo ke Natuna yang kemudian dilanjutkan dengan rapat terbatas di atas KRI Imam Bonjol menjadi bentuk penegasan bahwa Natuna merupakan wilayah NKRI.
“Kemampuan TNI dan Bakamla harus ditingkatkan dalam menjaga laut Indonesia, baik dari kesiapannya maupu dari sisi teknologi radar,” ucap Presiden Joko Widodo, sebagaimana disampaikan Tim Komunikasi Presiden, Kamis (23/6/2016) kemarin.
