Close Menu
Rancah Post
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Rancah Post
    • HOME
    • BERITA
      • Berita Banjar
      • Berita Ciamis
      • Berita Internasional
      • Berita Nasional
      • Berita Pangandaran
      • Berita Rancah
      • Berita Tasikmalaya
    • TEKNOLOGI
      • Aplikasi
      • Info Gadget Terbaru
      • Games
      • Internet
      • Software
      • Hardware
      • Review
      • Tips & Trik
    • LIFESTYLE
      • Fashion
      • Kecantikan
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Travel
      • Relationship
    • VIRAL
      • Sosial Media
      • Viral Video
      • Tentainment
    • SMARTPHONE
    Rancah Post
    Home»Artikel & Opini»Menyoal Tuah Aulia Fuadi
    Artikel & Opini

    Menyoal Tuah Aulia Fuadi

    Muhammad SyakiebMuhammad Syakieb27 September 20150
    Share Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Follow Us
    Google News
    Tuah Aulia Fuadi UIN
    Tuah Aulia Fuadi UIN

    RANCAH POST – Belum genap satu minggu ini, dunia mahasiswa dihebohkan oleh peristiwa pemecatan seorang mahasiswa salah satu Universitas di Sumatera Utara. Adalah Tuah Aulia Fuadi, mahasiswa semester V Fakultas Syariah yang pendapatnya dinilai melecehkan Al Quran dan Nabi Muhammad. Peristiwa itu berawal dari celoteh Tuah di akun Facebooknya.

    “Dahulu di zaman rasul, al Quran itu hadir dalam wajah jelek (tampil di kulit kambing) udah lah kepalanya botak (tak berbaris) beraroma busuk pula lagi itu (yg pastinya bau bangkailah). Dahulu Al Quran itu memang parah, kehadirannya primitif, beda dengan sekarang. Al Quran yang sekarang sudah maju secara profresif. Ia tampil dalam wajah tampan. (di buku).” tulis Tuah di beranda.

    “Penafsiran itu hanya rasul dan itu pun satu. sekarang ia sudah mati jadi penafsir tunggal itu sudah ga ada lagi. Yang sebaiknya al Quran itu direvisi saja. Minimal kembalikan saja urusan itu ke Negara, Biar negara saja yang merelevansikannya sesuai dengan kebutuhan zaman dan peradaban umat yg lebih progresif, modernis, teknologis dan teknogratis.” lanjut Tuah di kronologi berikutnya.

    Pandangan Tuah tersebut menuai kecaman dari pihak kampus. Tak ayal, Tuah dipaksa keluar dari bangku perkuliahan. Pendapatnya yang “liar” itu dianggap melecehkan agama sekaligus mencemarkan nama baik kampus.

    Peristiwa ini mengingatkan kita pada kejadian tahun lalu di Universitas Islam Negeri Surabaya. Sekelompok mahasiswa beratribut biru memampang tulisan “Tuhan Membusuk” saat sedang menjalankan kegiatan Orientasi Pengenalan Akademik (OSPEK). Kejadian ini sempat menyulut api emosi para pemuka agama, khususnya di Surabaya.

    Namun tak lama kemudian, pihak kampus mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan maksud dari pernyataan “Tuhan Membusuk” secara ilmiah. Tak lupa, pihak kampus juga memohon maaf apabila pernyataan tersebut dianggap tabu dan sarat pelecehan terhadap agama bagi masyarakat awam yang mendengarkannya.

    Pun demikian, apa yang dilakukan oleh Tuah. Bagi kalangan terdidik, pendapat Tuah merupakan kesimpulan sederhana dari hasil bacaan dan diskusinya yang sebenarnya belum tuntas. Sehingga masih dianggap wajar. Hanya perlu menambah catatan kecil, yakni Tuah harus belajar lebih dalam lagi.

    Sayangnya, Tuah menyampaikan pendapatnya di akun Facebook yang sifatnya umum. Banyak masyarakat awam di dalamya. Bagi masyarakat awam, pernyataan Tuah justru dianggap sesat dan menyesatkan. Maka wajar, jika Tuah harus dikecam dan dihukum.

    Sejatinya, kampus merupakan wahana berdemokrasi dalam berfikir dan berekspresi. Tiada lahan di dunia ini yang mampu menerima bibit-bibit perbedaan seluas di kampus. Oleh karena itu, setiap bentuk pendapat dan ekspresi harus dilindungi demi keberlangsungan dinamika intelektual. Jika “keharusan” sudah masuk di wilayah pemikiran, maka sudah waktunya dunia untuk tutup buku.

    Mungkin sah-sah saja Tuah dianggap salah. Tapi pertanyaannya, apakah dengan mendepak Tuah dari kampus, lantas Tuah akan kembali ke jalan yang benar? Tentu tidak.

    Keberanian Tuah dalam mengungkapkan pendapatnya harus diakui sebagai modal kekayaan intelektual. Mungkin kesalahan Tuah adalah, tidak bisa membedakan mana konsumsi bagi dirinya dan mana konsumsi bagi masyarakat awan. Itu saja.

    Maka terkesan “lebay“, jika kampus harus mendepak Tuah. Seharusnya, kemunculan Tuah menjadi koreksi bagi pihak kampus untuk melakukan pendampingan terhadap mahasiswa yang masih belum tuntas dalam menerima ilmu. [Muflih Hidayat]

    *Penulis adalah Penggiat Pojok Inspirasi Ushuluddin sekaligus Ketua Umum HMI KOMFUF Cabang Ciputat

    Artikel & Opini Tuah Aulia Fuadi
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram LinkedIn Copy Link
    Muhammad Syakieb
    • Website
    • Facebook
    • X (Twitter)

    Pemerhati Sosial dan Dinamika Bangsa

    Related Posts

    15 Nama Lain Hari Kiamat Yang Ditentukan dan Tertulis dalam Al-Qur’an

    20 Mei 2024

    Manfaat Belajar Bahasa Inggris dan Cara Mempelajarinya

    1 Januari 2023

    Pengalaman Mencari Jasa Ekspedisi Pengiriman Barang ke Indonesia Timur, Maluku dan Papua Terpercaya!

    25 Maret 2020
    Add A Comment

    Comments are closed.

    Cara Menggunakan Flashdisk di HP iPhone, Bebas Ribet & Pasti Berhasil!

    2 Maret 2026

    Nubia Neo 5 GT Siap Debut di MWC 2026, Bawa Kipas Pendingin Aktif

    28 Februari 2026

    Realme Narzo Power 5G Meluncur 5 Maret, Spesifikasinya Identik dengan P4 Power?

    28 Februari 2026

    Infinix Smart 20 Resmi Diumumkan, Pakai Helio G81 Ultimate dan Layar 120 Hz

    28 Februari 2026
    Daftar HP Terbaru 2026
    • Samsung Galaxy S26 Ultra Samsung Galaxy S26 Ultra Rp24.499.000
    • Samsung Galaxy S26 Plus Samsung Galaxy S26 Plus Rp19.499.000
    • Samsung Galaxy S26 Samsung Galaxy S26 Rp16.499.000
    • Vivo iQOO 15R Vivo iQOO 15R Rp5.899.000
    • Honor X6d 5G Honor X6d 5G Rp2.499.000
    • Honor Play 60A Honor Play 60A Rp3.799.000
    Rancah Post
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn
    • Kontak
    • Privacy
    • Terms
    • Disclaimer
    © 2026 Rancah Post.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.