RANCAH POST – Saluran televisi Al-Arabiya berpendapat jika akun-akun Twitter yang tersinkronisasi kepada para aktivis ISIS mesti ditutup.

Salma El Shahed dari Al Arabiya menulis dalam laman stasiun televisi saingan Aljazeera ini bahwa kaum militan ISIS terus menciptakan kegemparan di seluruh Irak dan menyebarluaskan aksi-askinya melalui media sosial, terutama Twitter, termasuk menyebarluaskan foto-foto mengerikan.

Satu akun Twitter yang diyakini milik pengguna yang berkaitan dengan kelompok ekstremis itu, tulis Salma El Shahed, menjadi pusat perhatian karena memposting kantong-kantong janasah berlumuran darah berisi kepala-kepala manusia terpenggal.

Iraq al-Farouq Omar (dalam akun @aws_fasfas) telah memposting foto-foto pemenggalan manusia. Kendati belum jelas apakah ini akun individual atau kolektif, namun menurut wartawan Al-Arabiya itu akun tersebut jelas didedikasikan untuk ISIS.

Twitter punya kebijakan bahwa pengguna tidak boleh mengeluarkan ancaman atau kekerasan tidak langsung kepada pengguna lainnya, termasuk ancaman terhadap orang atau kelompok berdasarkan ras, etnik, suku bangsa dan agama, kutip Al-Arabiya dari Twitter.

Namun faktnya, kata Salma El Shahed, Twitter tak dapat menghapus akun Twiter penyebar ancaman itu.

Akun Iraq al-Farouq Omar telah mencuit ancaman kepada orang-orang tak seiman dengannya pembantaian, dan memposting foto-foto komunitas minoritas Yazidi sebagai “penyembah iblis.”

Menurut Al-Arabiya, Twitter menolak mengomentari “privacy and security purposes” (demi privasi dan keamanan) yang ada pada mereka.

Mengutipkan para analis, Al-Arabiya mengatakan ada pertanyaan mengenai apakah perusahaan-perusahaan media sosial mesti bertanggung jawab atas tersebarnya konten-konten jahat itu.

Abeer Najjar, profesor komunikasi massa dari Universiah Syariah Amerika, menilai cuitan-cuitan semacam itu tidak perlu ditutup sepanjang tak melanggar hukum internasional.

Platform-platform seperti Twitter dan Facebook menjadi pedang bermata dua, sebut Al-Arabiya.

Kedua platform ini telah mempengaruhi keberadaan ISIS dan memperluas dukungan kepada mereka, kata profesor Najjar.

Namun ISIS tak selalu meraih simpati lewat media sosial, justru kegemaran beberapa aktivisnya dalam menyebarkanluaskan aksi-aksi sadisnya membuat masyarakat menjauh dari mereka.

“Kemungkinan besar itu malah membuat masyarakat menentang mereka karena jijik,” kata David Mack, peneliti senior pada Institut Timur Tengah kepada Al Arabiya News.

Share.

Leave A Reply