Close Menu
Rancah Post
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Rancah Post
    • HOME
    • BERITA
      • Berita Banjar
      • Berita Ciamis
      • Berita Internasional
      • Berita Nasional
      • Berita Pangandaran
      • Berita Rancah
      • Berita Tasikmalaya
    • TEKNOLOGI
      • Aplikasi
      • Info Gadget Terbaru
      • Games
      • Internet
      • Software
      • Hardware
      • Review
      • Tips & Trik
    • LIFESTYLE
      • Fashion
      • Kecantikan
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Travel
      • Relationship
    • VIRAL
      • Sosial Media
      • Viral Video
      • Tentainment
    • SMARTPHONE
    Rancah Post
    Home»Berita»Berita Nasional»Bakrie Semakin Miskin, Karena Semakin Sulit Cari Utang
    Berita Nasional

    Bakrie Semakin Miskin, Karena Semakin Sulit Cari Utang

    Muhammad SyakiebMuhammad Syakieb14 Juni 20131
    Share Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Follow Us
    Google News
    Foto Aburizal Bakrie
    Foto Aburizal Bakrie. (IST)

    RANCAH POST – Kabarnya, kelompok usaha konglomerat Aburizal Bakrie kini sedang terlilit utang, dan masyarakat juga telah lama mengetahui hal tersebut.

    Rupanya, permasalahan kerajaan bisnisnya ternyata maha berat, dan terus menggelayuti calon presiden yang diusung Partai Golkar ini.

    Laporan keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menyatakan utang perseroan kini Rp 6,44 triliun. Memang telah jauh menurun dibanding jumlah utang pada 2011 yang mencapai Rp 10,71 triliun.

    Namun, jelaga yang menodai 10 anak perusahaan Bakrie sulit dihapus. Pasalnya, penyakit lama diidap grup usaha yang sempat jatuh sebelum reformasi 1998 ini belum disembuhkan. Yaitu kebiasaan gali lubang tutup lubang. Alias membayar utang perusahaan lama, dengan mencari debitor baru.

    Direktur Eksekutif Lembaga Riset Ekonomi KataData, Metta Dharmasaputra, yang tahun lalu memeriksa utang Grup Bakrie, menyatakan satu-satunya alasan kelompok usaha ini bisa bangkit saat diterjang krisis ekonomi Asia pada 1997, berkat peralihan ke bisnis batu bara pada awal abad 21.

    Ical, panggilan akrab Aburizal Bakrie , berhasil membeli 100 persen saham Kaltim Coal pada 2003, dengan cara berutang, lantas memasukkan tambang batu bara itu ke dalam lini usaha PT Bumi Modern Inti yang baru beralih ke bisnis tambang lima tahun sebelumnya. Aksi ini disusul kemudian akuisisi 80 persen saham tambang batu bara Arutmin, juga di Kalimantan. Dia memberi nama baru perusahaan ini Bumi Resources.

    Bisnis batu bara mendatangkan untung luar biasa pada sang induk perusahaan, Bakrie and Brothers. Harga bahan bakar non-fosil itu melonjak, sangat terbantu pertumbuhan ekonomi China selama satu dekade terakhir yang menuntut pasokan energi melimpah, sehingga permintaan ekspor stabil.

    Dari keberhasilan mengembangkan Bumi menjadi perusahaan tambang terbesar di Indonesia, Bakrie kembali berutang ke mana-mana. Ekspansi bisnis dilakukan, anak dan cucu perusahaan didirikan. Namun, di tengah semua gurita usaha itu, inti konglomerasi Bakrie adalah batu bara, lain tidak. Dari utang, Bakrie bisa mendapat lebih banyak lagi utang sekaligus menumpuk pundi-pundi uangnya.

    Bahkan, Ical sendiri mengakui jalan berutang untuk membeli Kaltim Coal adalah salah satu keputusan terpenting dalam hidupnya. Sebab, dari seorang calon pengusaha bangkrut, dia berhasil menjadi orang terkaya di Tanah Air versi Majalah Forbes 2007.

    “Saya sendiri juga pernah menghadapi masalah saat krisis ekonomi 1997-1998. Saat itu saya jatuh miskin. Bahkan saya jauh lebih miskin dari pengemis. Ini karena saya memiliki utang yang sangat besar. Utang saya saat itu sekitar USD 1 miliar,” ungkap Bakrie dalam tulisan situs pribadinya, icalbakrie.com, tertanggal 4 Juli 2010.

    Sayangnya, krisis global menghantam seluruh dunia pada 2008. Ditambah lagi bisnis batu bara jatuh sejak akhir 2010. Kali ini, pukulan terhadap Bakrie terlalu telak dan kemungkinan sulit diatasi kembali dengan cara berutang.

    “Ruang berutang itu menjadi sempit, karena harga batu bara diperkirakan dalam waktu cukup panjang tidak akan naik seperti dulu. Nah ini yang menjadi berbeda posisinya,” kata Metta saat dihubungi merdeka.com, Rabu (12/6) malam.

    Selama ini, Bakrie bisa berkelit dari jeratan utang. Salah satu yang paling dramatis adalah keberhasilan menghindari bangkrut pada 2011 ketika Bakrie harus membayar utang jatuh tempo USD 1,35 miliar. Caranya meminta jaminan pada Credit Suisse, dengan menjaminkan Bumi dan berani menjanjikan imbal hasil besar bagi debitor.

    “Namanya debitur sepanjang dia lihat return bisa di-manage dia mau kasih (pinjaman), kalau kita lihat Bakrie berani memberi return tinggi,” ungkap Metta.

    Dari situ, Bumi menjadi kata kunci utama. Itu sebabnya, ketika Nathaniel Rotschild hendak merebut perusahaan batu bara tersebut tahun lalu, Bakrie mati-matian mempertahankan.

    Sampai sekarang, perceraian dengan investor asal Inggris itu belum tuntas. Total seluruh saham Bumi Plc yang harus dikembalikan oleh Bumi Resources adalah sekitar USD 437 juta. Sedangkan untuk biaya selisih tukar guling saham antara Bumi Resources dengan Bumi Plc adalah sekitar USD 278 juta yang dibayarkan Longhaul Investment.

    Direktur Keuangan BNBR Eddy Suparno sudah menegaskan, dengan cara apapun, Bumi tidak boleh lepas dari kekuasaan Bakrie.

    “Salah satu sumber pendanaan penyelesaian kerja sama ini melalui divestasi aset serta beberapa sumber lain yang kami jajaki,” ungkapnya usai konferensi pers BNBR di JS Luwansa, Jakarta, kemarin.

    Usaha menyelamatkan inti usaha Bakrie itu memang membuat pendarahan pada anak-anak usaha BNBR. Mengobatinya hanya dengan cara menjual aset. Perusahaan yang sudah tercatat dijual sahamnya ke investor lain adalah Seamless Pipe Indonesia Jaya, Bakrie Pipe Indonesia, South East Asian Pipe Indonesia, South East Asian Pipe, Bakrie Construction, Bakrie Building Industries hingga yang terbaru adalah menjual saham PT Energi Mega Persada Tbk.

    “Kami mengharapkan minimal (utang berkurang) 15-20 persen, caranya yang kami akan melakukan, penjualan sebagian aset,” kata Eddy.

    Penjualan saham ini sebagian tidak dilakukan dengan cara stock split, alias memperbesar volume lembar saham untuk menjaga porsi kepemilikan meski nilai perusahaan turun. Artinya, aset Bakrie kini benar-benar dijual, bukan sekadar otak-atik akuntansi, walau tidak dilepas total.

    Menurut Metta, hal ini sudah semestinya. Ambruknya bisnis batu bara tidak memberi banyak ruang bagi Bakrie untuk bermanuver, termasuk berutang kepada debitur asing. Sebab secara fundamental, aset Bakrie sudah termasuk kronis. Pemodal manapun sudah malas memberi pinjaman besar kepada perusahaan yang tidak sehat.

    Melihat ngototnya BRNB merebut Bumi kembali, Metta melihat ada indikasi konglomerasi ini berharap bisnis batu bara bisa menyelamatkan nasib dari kebangkrutan.

    “Dia harus melepaskan asetnya, kalau berharap harga batu bara naik seperti menunggu godot. Problemnya, aset-aset sudah dijaminkan kepada debitor, ditambah krisis global, otomatis jaminan mereka turun dibawah nilai yang dipersyaratkan, mau tidak mau, mereka harus melepas aset,” tandasnya.

    Jurus Bakrie berutang memang terbukti menyimpan kunci kelemahan paling fatal yang bisa dialami pengusaha paling kawakan sekalipun. Setiap bisnis yang dibangun dari hasil pinjaman, sebetulnya rentan ambruk ketika ada krisis besar tak terduga.

    “Dulu (cara Bakrie mengelola utang) dilakukan dengan ditutup dengan utang baru lagi. Tapi itu kan ada batasnya, sampai berapa kuat dia bisa melakukannya lagi. Ketika ada satu problem force majeure, rontok semua seperti rumah kartu,” kata Metta.

    Lepas dari utang Bakrie and Brothers, jika ditambah kewajiban perusahaan lainnya, Lembaga KataData menaksir kewajiban pinjaman Bakrie yang harus dilunasi tahun lalu mencapai Rp 78 triliun.

    Sejalan dengan itu, sejak tiga tahun terakhir, Ical tak lagi masuk jajaran orang terkaya Indonesia versi Majalah Forbes. Masuk deretan 40 besar pun tidak.

    Pada 2011 harta kekayaan kandidat calon presiden 2014 ini sudah turun hingga USD 1,2 miliar atau 57 persen. Padahal, tahun sebelumnya, Ical bertengger di posisi orang terkaya nomor 10 di Indonesia dengan total harta USD 2,1 miliar.

    Ical sendiri yang bilang bahwa dia pernah lebih miskin dari pengemis pada 1997 dan dia pernah selamat. Sampai sekarang, Ketua Golkar ini tak pernah mengungkapkan secara terbuka apakah dia optimis bisa keluar dari jerat utang di media massa manapun.

    “Saya telah pergi ke 220 bank di seluruh dunia untuk menyelesaikan masalah saya. Akhirnya dengan usaha keras pada 2001 saya bisa bangkit kembali dan utang saya bisa dilunasi dan bisnis saya membaik kembali,” tulis Ical tiga tahun lalu. Saat itu dia masih sangat percaya diri.

    Tidak ada yang bisa menjamin dia bisa selamat kali ini, seperti yang sudah-sudah. Metta pun mengaku, harus dibandingkan dulu secara cermat kondisi keuangan saat keuangan Grup Bakrie morat-marit pada 1999 dengan sekarang untuk melihat seberapa panjang napas konglomerat kawakan itu. Yang jelas, tak ada lagi aset berharga meyakinkan digunakan buat berutang. Sesuai dasar ilmu ekonomi, kehilangan aset sama dengan berkurangnya kekayaan riil seseorang.[mrdk]

    Aburizal Bakrie Golkar Nasional
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram LinkedIn Copy Link
    Muhammad Syakieb
    • Website
    • Facebook
    • X (Twitter)

    Pemerhati Sosial dan Dinamika Bangsa

    Related Posts

    Panwaslu Rancah Bahas Strategi Pengawasan Kampanye dan Pemetaan TPS Rawan

    30 Januari 2024

    Update Korban Tewas Dalam Tabrakan Kereta Turangga vs Bandung Raya, Ini Identitasnya

    5 Januari 2024

    2 Kereta Api Tabrakan di Cicalengka Bandung, Gerbong Masuk Sawah

    5 Januari 2024
    View 1 Comment

    1 Komentar

    1. bejo on 24 Desember 2015 9:58 PM

      susah sekali nyari tanggal beritanya… hal prinsip dalam penulisan berita..

    Cara Menggunakan Flashdisk di HP iPhone, Bebas Ribet & Pasti Berhasil!

    2 Maret 2026

    Nubia Neo 5 GT Siap Debut di MWC 2026, Bawa Kipas Pendingin Aktif

    28 Februari 2026

    Realme Narzo Power 5G Meluncur 5 Maret, Spesifikasinya Identik dengan P4 Power?

    28 Februari 2026

    Infinix Smart 20 Resmi Diumumkan, Pakai Helio G81 Ultimate dan Layar 120 Hz

    28 Februari 2026
    Daftar HP Terbaru 2026
    • Samsung Galaxy S26 Ultra Samsung Galaxy S26 Ultra Rp24.499.000
    • Samsung Galaxy S26 Plus Samsung Galaxy S26 Plus Rp19.499.000
    • Samsung Galaxy S26 Samsung Galaxy S26 Rp16.499.000
    • Vivo iQOO 15R Vivo iQOO 15R Rp5.899.000
    • Honor X6d 5G Honor X6d 5G Rp2.499.000
    • Honor Play 60A Honor Play 60A Rp3.799.000
    Rancah Post
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn
    • Kontak
    • Privacy
    • Terms
    • Disclaimer
    © 2026 Rancah Post.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.